|
NASIB KOPERASI DAN KORPORATOKRASI |
|
|
|
|
Mukhaer Pakkanna Peneliti CIDES dan Wakil Ketua STIE Ahmad Dahlan Jakarta
Pada Forum Sarasehan Ekonom Senior-Ekonom Muda Indonesia (Kompas, 6/7) muncul keresahan para ekonom senior. Sebenarnya, sudah sejak lama didengungkan, bahwa kebijakan dan dinamika ekonomi Indonesia selama empat dasawarsa ini mengalami disorientasi. Karena itu, pada Kongres ke-17 Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), 31 Juli – 1 Agustus 2009 di Bukittinggi, mengajukan visi dan usul kembali ke ekonomi Pancasila. “Sudah saatnya untuk kembali ke hajat hidup orang banyak, kembali ke sistem ekonomi Pancasila”.
|
|
Read more...
|
|
|
KETERPADUAN INFRASTRUKTUR JALAN |
|
|
|
|
Mukhaer Pakkanna Wakil Ketua STIE Ahmad Dahlan Jakarta dan Peneliti CIDES
Beranjak pada UU No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan, bahwa pengelolaam jalan sejatinya bermuara pada upaya meningkatkan nilai utilisasi jalan bagi optimalitas kepentingan seluruh masyarakat. Mobilitas perekonomian nasional, sangat bertumpu pada kehandalan dan tingkat pelayanan jaringan transportasi jalan. Dalam konteks ekonomi, jalan sebagai modal sosial masyarakat merupakan tempat bertumpu perkembangan ekonomi, sehingga pertumbuhan ekonomi yang tinggi sulit dicapai tanpa ketersediaan jalan yang memadai. Secara umum dari 340.628 km jaringan jalan nasional sekitar 40 %, kondisinya tidak mantap (2007). Hal ini disebabkan terutama keterbatasan dana, meningkatnya volume kendaraan ataupun muatan, disiplin pengguna jalan seperti penggunaan kendaraan yang melebihi muatan yang diizinkan.
|
|
Read more...
|
|
|
PELABUHAN INDONESIA HANYA FEEDER? |
|
|
|
|
Oleh: Mukhaer Pakkanna Wakil Ketua STIE Ahmad Dahlan Jakarta dan Peneliti CIDES
Letak geografis Republik Indonesia (RI) sangat strategis karena terletak pada posisi silang antara 2 (dua) benua yaitu Asia dan Australia serta 2 (dua) Samudera yaitu Pasifik dan Hindia. Karena negara RI merupakan suatu negara archipelago state, maka peranan perhubungan laut dan udara adalah sangat penting dan strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu, wawasan nusantara merupakan grand strategy. Sebagai negara maritim, maka seharusnya kita memiliki armada kapal dan infrastruktur perhubungan laut yang cukup untuk melayani kebutuhan angkutan laut dalam negeri dan angkutan laut luar negeri. Namun realitasnya, kita mengalami defisit neraca pembayaran luar negeri sebesar US $ 11 milyar per tahun karena kapal-kapal kita kalah bersaing.
|
|
Read more...
|
|
|
MUHAMMADIYAH INCORPORATED? |
|
|
|
|
Oleh: Mukhaer Pakkanna Wakil Ketua STIE Ahmad Dahlan Jakarta Anggota Muktamar Muhammadiyah
Satu hal yang kerap luput didedahkan tatkala membahas organisasi sebesar Muhammadiyah, yakni revitalisasi organisasi. Para penggiat dan pengamat Muhammadiyah, cenderung memotret Muhammadiyah dalam spektrum aliran pemikiran keislaman, pergumulan politik dan kemasyarakatan, hingga menjelang Muktamar ke Muktamar, berkutat pada kisaran kepemimpinan. Padahal, jika dilihat kinerja kuantitatif Muhammadiyah, terutama dibidik amal-usahanya, sungguh sangat impresif. |
|
Read more...
|
|
|
ZAKAT: MERETAS KOMPLEKSITAS USAHA MIKRO |
|
|
|
|
Oleh: Mukhaer Pakkanna Peneliti CIDES dan Wakil Ketua STIE Ahmad Dahlan Jakarta
Zakat memang hebat. Ia mampu memberi resonansi dalam aspek pemberdayaan masyarakat, sekaligus memberi kekuatan magnetis untuk menarik berbagai kekuatan partikel umat sehingga jumlah muzakki kian bertambah. Kekuatan resonansi dimaknakan sebagai efek kemaslahatan yang diberikan instrumen zakat, karena terbukti secara historis dan empiris memicu redistribusi aset demi keadilan dan pemerataan. Kekuatan magnetis dimaknakan, sebagai kemampuan instrumen zakat mengakumulasi aset, yang dipicu oleh kekuatan eskatologis yang berdimensi ibadah, sebagai panggilan Allah yang terekspresi dalam rukun Islam.
|
|
Read more...
|
|
|
|