AISYIYAH DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI

Sangat menarik tema yang diangkat Tanwir ‘Aisyiyah di Surabaya pada 19 – 21 Januari 2018, yakni “Gerakan Pemberdayaan Ekonomi Perempuan, Pilar Kemakmuran Bangsa“. Tema ini sangat relevan, setidaknya terlihat dari mulai maraknya gerakan-gerakan ekonomi berbasis komunitas. Gerakan ini yang jika tidak diorganisir dengan kelembagaan dan jejaring yang apik, maka bukan tidak mungkin hanya sekadar euforia.


 

aisyiyahMelalui Tanwir ini, ‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan di bawah payung Muhammadiyah, sebagai gerakan Islam, dakwah amar makruf nahi munkar dan tajdid, ingin menghentakkan kesadaran kolektif bangsa, bahwa modalitas yang dimiliki perempuan bisa menjadi fundamen dan pilar membangun ekonomi. Lantas, modalitas apa yang dimiliki perempuan?     

Dalam studi Dasgupta, Partha dan Ismail Saralgedin (2000) berjudul: Social Capital-A Multifaceted Perspective, (Washington, DC:World Bank), perempuan memiliki modal sosial (social capital) yang kuat akan memantik pertumbuhan pelbaga sektor ekonomi. Modal sosial mengejawantah dalam bentuk kohesifitas sosial, semangat gotong royong, tolong menolong, rasa dan semangat saling memberi (reciprocity), trust (rasa saling percaya) dan jejaring sosial (social networking). Modalitas ini menjadi energi dalam membangun keberlanjutan usaha dan bertahannya kekuatan ekonomi suatu masyarakat, terutama  ekonomi keluarga.

Modalitas ini yang membuat banyak Lembaga Keuangan Mikro (LKM) di pelbagai pelosok dunia, melirik kekuatan ekonomi perempuan tersebut. Studi Mayoux (1999), misalnya, yang mengelaborasi peranan LKM dan pemberdayaan perempuan di beberapa wilayah Afrika (Kamerun, Zimbabwe, Afrika Selatan, Kenya, dan Uganda), dengan Sudan sebagai acuan (benchmark) dalam pemberdayaan perempuan penerima kredit mikro. Mayoux mengemukakan, asumsi utama pemberdayaan perempuan, bahwa perempuan merupakan inti dari keluarga. Penurunan jumlah kemiskinan perempuan, secara otomatis menurunkan jumlah kemiskinan. Dengan pendekatan studi kasus, program kredit mikro di beberapa negara yang dijadikan sampel di Afrika, secara nyata memberi kontribusi mengubah tatanan jender. Oleh karena perempuan lebih ditekankan dalam akses kredit mikro, secara otomatis, kegiatan ekonomi perempuan berkembang jauh lebih besar (Tundui & Mgonja, 2010; Ifelunini & Wosowei, 2013)

Merawat Gerakan

            Salah satu contoh autentik sosok perempuan ‘Aisyiyah yang mampu merawat perjuangan dalam tiga fungsi simultan (fungsi reproduksi, produksi dan fungsi sosial di masyarakat) dapat dibaca dalam White Papers yang dikeluarkan Department of Foriegn Affairs and Trade (DFAT) Australia pada Kamis (23/11/2017). Salah satu yang mencuat adalah aktivis perempuan, bernama Syamsiah.

Syamsiah, aktivis ‘Aisyiyah, organisasi sayap perempuan Muhammadiyah dalam perjuangan melawan kemiskinan dan kebodohan. Setidaknya untuk wilayah kampung Kaili, Bonto Lebang, Kabupaten Bantaeng. Syamsiah bergerak melalui Balai Sakinah ‘Aisyiyah, yang mencerburkan diri secara aktif dalam proses pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan program Maju Perempuan Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan (MAMPU).

Dengan perjuangannya keluar-masuk perkampungan (desa) dalam mengedukasi kaum ibu, terutama di bidang kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Jejak perjuangan aktivis Aisyiyah itu, tertuang dalam White Papers DFAT (2017). White Papers adalah dokumen internasional yang komprehensif tentang kebijakan luar negeri Australia selama 14 tahun terakhir dengan isu pemberdayaan kaum ibu sebagai salah satu prioritas utama. Syamsiah dianggap sebagai sosok ibu yang gigih melakukan pemberdayaan dan mampu menyadarkan kaum perempuan, yang didasarkan pada potensi dan modalitas sosial yang dimiliki perempuan itu sendiri.

Perjuangan Syamsiah tentu tidak lepas dari tempaan organisasi ‘Aisyiyah. Sebagai organisasi yang berdiri sejak 19 Mei 1917, yang memiliki perhatian khusus memajukan agama, pendidikan, layanan  kesehatan, dan sosial kepada masyarakat umum, organisasi ini menekankan pada peningkatan kualitas hidup perempuan agar dapat mencapai sebuah keluarga sakinah dan qaryah thayyibah. Kekuatan ‘Aisyiyah  sebagai organisasi perempuan terletak pada gerakannya di tingkat akar rumput dan melalui amal usaha, yang meliputi antara lain 13 ribu amal usaha pendidikan anak usia dini, amal usaha pendidikan dasar dan menengah; 13 pendidikan tinggi; 568 koperasi; 1.029 Bina Usaha Ekonomi Keluarga; dan amal usaha di bidang kesehatan yang dikelola Muhammadiyah-‘Aisyiyah berupa 87 Rumah Sakit Umum, 16 Rumah Sakit Ibu dan Anak, 70 Rumah Sakit Bersalin, 106 Balai Pengobatan, 20 Balai Kesehatan Masyarakat (Balkesmas), 76 BKIA, 105 Rumah Bersalin, serta Posyandu yang tersebar di seluruh Indonesia.

Dengan potensi itu, sejumlah lembaga donor internasional menawarkan kerjasama dengan 'Aisyiyah di antaranya adalah Asia Foundation, UNICEF, Global Fund for Children, Family Health International, John Hopkins University, dan Advance Family Planning. Selain itu, juga bekerjasama dengan pemerintah, misalnya dengan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk promosi kontrasepsi non-hormonal dan program kesehatan reproduksi, Kementerian Kesehatan RI berkaitan program perilaku hidup yang bersih dan higienis, Program Desa Siaga, dan program kesehatan reproduksi.

Dengan program yang terstruktur dan terlembaga seperti itu, tidak mengherankan jika ‘Aisyiyah sebagai perkumpulan kaum ibu telah mengukir prestasi, terutama dalam membangun basis kader dan gerakan. Namun, dalam bidang gerakan pemberdayaan ekonomi, gerakan ‘Aisyiyah masih minim kontribusinya jika dibanding beberapa organisasi perempuan yang berbasis gerakan ekonomi. Padahal empat pilar konsentrasi yang telah dicanangkan ‘Aisyiyah, yakni bidang kesehatan, sosial, ekonomi, dan pendidikan. Pada faktanya, empat konsentrasi itu masih berjalan pincang dan belum berjalan simultan.

Pemberdayaan Ekonomi

Gerakan ‘Aisyiyah di bidang pendidikan, kesehatan, dan kehidupaan sosial, hanya bisa tegak dan berkesinambungan jika ditopang kemandirian gerakan ekonomi. Oleh karena itu, gerakan ekonomi ‘Aisyiyah harus berorientasi penguatan kelembagaan dan pemberdayaan ekonomi anggota. Pada aspek penguatan kelembagaan, harus dipastikan bahwa kelembagaan yang dimaksud adalah kelembagaan ekonomi, menekankan pada aspek organisasi, mekanisme, kepemimpinan, nilai, norma, dan aturan-aturan formal dan informal yang berkembang di tengah masyarakat.

Pada aspek pemberdayaan, banyak studi membuktikan, lembaga keuangan mikro (LKM) mampu memberdayakan ekonomi dan kesejahteraan keluarga. Contoh fenomenal yakni praktik penyelenggaraan pemberian kredit mikro bagi masyarakat miskin yang dilakukan Muhammad Yunus dengan institusi Grameen Bank (GB) di Bangladesh. GB secara signifikan mampu mengurangi jumlah masyarakat miskin di pelbagai wilayah perdesaan. Seperti diungkap Parveen (2009), GB telah memberi kredit ke hampir 7 (tujuh) juta orang miskin di 73.000 desa Bangladesh, 97 persen di antaranya ibu rumah tangga (perempuan).

Dalam konteks itulah, gerakan ekonomi ‘Aisyiyah harus mandiri dan mampu memandirikan ibu-ibu rumah tangga. Namun, kemandirian ekonomi kaum ibu, bukan berarti kaum ibu memutuskan segala sesuatu tanpa musyawarah dengan suami atau anggota rumahtangga lain. Kemandirian memiliki makna, bahwa kaum ibu tidak menggantungkan ekonomi rumahtangga hanya kepada suami. Perempuan ikut bekerja semata-mata membantu meringankan beban suami dalam memenuhi kebutuhan rumahtangga. (mp)


Return - Kolom Rektor (Mukhaer Pakkanna)
Jan 17, 2018 Category: Kolom Rektor (Mukhaer Pakkanna) Posted by: najeeb2
Next page: Profil STIEAD