Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Direction

Menu Style

Cpanel

Rokok dan Kemiskinan

Oleh: Dr. Mukhaer Pakkanna, SE., MM. | Ketua STIE Ahmad Dahlan Jakarta

Suatu fakta, bahwa Desa Guaeria di Kecamatan Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, adalah tempat di mana api rokok tatkkan pernah bisa menyala. Sebuah pulau yang penduduknya takkan pernah mengizinkan asap rokok melayang-layang di ruang udara mereka.

Mengapa mereka kuat memegang teguh komitmen itu? Pemerintah Desa Guaeria dan pihak Gereja Kalvari Pentakosta Missi di Indonesia jemaat Betlehem, Guaeria, bersepakat tentang larangan asap rokok. Ajaran gereja yang dianut sebagian besar penduduk itu salah satunya berisikan hukum terkait kesehatan, terutama hukum agar jangan merusak tubuh karena tubuh adalah rumah ibadah. Adapun gedung gereja hanya memfasilitasi untuk beribadah.

Pendekatan keagaamaan seperti itu cukup efektif dalam skala kasus lebih kecil di tingkat entitas desa, apalagi jika aparat desa mendukung penuh program itu dalam rangka menjaga kesehatan warga. Paralel dengan kebijakan itu, Muhammadiyah sebagai salah satu entitas keagamaan juga telah men-declare bahwa merokok hukumnya haram, merujuk Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah No. 6/SM/MTT/III/2010. Keputusan itu telah mengikat, sehingga seluruh anggota dan entitas Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bersepakat mendirikan Kawasan Tanpa Rokok (KTR).  

Mengapa Muhammadiyah juga mengharamkan rokok? Ada tiga alasan, yakni normatif, saintifik, dan fakta sosial ekonomi. Secara normatif, alasannya, pertama, merokok adalah perbuatan khaba’is (segala yang buruk), kedua, menciptakan lingkungan tidak sehat dan tidak sesuai tujuan syariah (maqasid asy-syari‘ah); ketiga, merokok mengandung unsur  menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan dan perbuatan bunuh diri secara perlahan; keempat, membahayakan diri dan orang lain yang terkena paparan asap rokok. Kelima, pembelanjaan untuk rokok berarti melakukan perbuatan mubazir (pemborosan). 

Kemudian secara saintifik, didasarkan bahwa  rokok sebagai produk berbahaya dan adiktif serta mengandung 4000 zat kimia, di mana 69 di antaranya adalah karsinogenik (pencetus kanker). Selain itu, merujuk studi WHO (World Health Organization) (2008), epidemi tembakau telah membunuh 5,4 juta orang per tahun akibat kanker paru dan penyakit jantung serta lain-lain. Artinya, satu kematian di dunia akibat rokok untuk setiap 5,8 detik. Apabila tindakan pengendalian tidak dilakukan, diperkirakan 8 juta orang mengalami kematian setiap tahun akibat rokok menjelang 2030.  

Fakta Sosial Ekonomi

Dalam aspek sosial ekonomi, terdapat fakta dalam pelbagai studi tentang rokok dan kemiskinan, bahwa terjadi surplus ekonomi masyarakat kelas bawah bergeser menjadi surplus ekonomi pemilik modal (industri rokok). Dalam pendekatan teori strukturalis Andre Gunder Frank (1978), disebut terjadinya disarticulated socio-economic structure di mana masyarakat misikin (perokok dan petani tembako) berkontribusi signifikan mendongkrak surplus profitabiltas industri rokok besar. Ihwal ini tidak jauh berbeda dengan sistem cultuurstelsel (tanam paksa) zaman VOC di Hindia Belanda. 

Justifikasi historis seperti itu telah mengonfirmasi fakta-fakta teranyar. Pertama, harga rokok di Indonesia termasuk salah satu negara termurah setelah Pakistan, Vietnam, Nikaragua, Kamboja, Filipina dan Kazaksthan. Sementara komposisi perokok di dunia, 80 persen adalah negara-negara miskin dan berkembang. Di antara negara-negara tersebut, Indonesia meraih predikat pertama jumlah pria perokok di atas 15 tahun. Merujuk data the Tobaco Atlas (2015), sebanyak 66 persen pria di Indonesia adalah perokok. Ini artinya, dua dari tiga pria usia di atas 15 tahun adalah perokok.

Kedua,  merujuk hasil riset Lembaga Studi Demografi FE UI, banyak rumah tangga termiskin atau berpenghasilan rendah di Indonesia terperangkap konsumsi rokok; sebanyak tujuh dari sepuluh rumah tangga (hampir 70 persen) memiliki pengeluaran membeli rokok. Sedangkan, enam dari sepuluh rumah tangga termiskin (57 persen) memiliki pengeluaran membeli rokok. 

Ketiga, hasil Survei Sosial Ekonomi BPS (2015), merujuk data alokasi belanja dikeluarkan masyarakat telah melampaui besaran belanja beras. Hingga akhir 2016, menyebutkan alokasi belanja rokok mencapai Rp 64.769 per kapita sebulan atau 6,79 persen terhadap pengeluaran total. Pengeluaran per kapita membeli beras terpaut angka tidak jauh yakni Rp 64.759 atau 6,79 persen. Sementara rerata jumlah batang rokok dihabiskan selama seminggu mencapai 76 batang di perkotaan dan 80 batang di pedesaan.

Keempat, merunut data kemiskinan BPS (Maret 2017), kontribusi pengeluaran rokok pada GKM sebesar 8,08 persen (perkotaan) dan 7,68 persen (pedesaan). Data ini berbicara, orang dikategorikan miskin banyak yang mengonsumsi rokok. Namun, bukan berarti orang kaya tidak merokok tetapi bagi mereka share pengeluaran rokok ini sangatlah kecil dibandingkan pengeluaran barang mewah lainnya (inelastis demand).

Kontras fakta miris itu,  kinerja tiga pemain besar industri rokok di Tanah Air, yakni: PT Sampoerna Tbk, PT Gudang Garam Tbk, dan PT Djarum terdongkrak signifikan. PT Sampoerna Tbk misalnya, dalam laporan keuangan 2016 menorehkan laba bersih Rp10,355 triliun atau terdongkrak dari tahun sebelumnya Rp10,015. Sejak dibeli Philip Morris International pada 2005, Sampoerna Tbk menunjukkan rerata pertumbuhan laba bersih per tahun hingga 13 persen. Demikian juga PT Gudang Garam Tbk membukukan laba bersih Rp6,43 triliun pada 2016. Capaian itu naik 19,05 persen dari pendapatan pada 2015 yakni Rp5,4 triliun. Selanjutnya, PT Djarum, melalui anak-anak perusahaannya makin agresif menjadi pemain di pelbagai sektor bisnis seperti e-commerce, properti, media, hingga sektor pertanian. 

Bahkan, Majalah Forbes (2016) masih menempatkan keluarga Hartono—Robert Budi Hartono dan Michael Hartono—pemilik PT Djarum sebagai orang terkaya di Indonesia. Kekayaannya, diperkirakan mencapai US$15,4 miliar atau ekuivalen Rp210,98 triliun atau sekitar seperlima dari total pendapatan negara sebesar Rp1.822 triliun (2016).

Peran Muhammadiyah 

Fakta ketimpangan dan pengalihan surplus ekonomi ke pemilik modal besar (industri rokok), menjadikan Muhammadiyah terpanggil. Bukan semata memberi fatwa haram, tapi Muhammadiyah terus bergerak melakukan studi, sosialisasi, kampanye, dan advokasi ke skala masyarakat miskin dan tertindas akibat masifnya kapitalisasi industri rokok.. 

Oleh karena itu, Muhammadiyah melalui gerakan teologi al-Ma’un, memastikan bahwa sungguh banyak korban masyarakat miskin (perokok dan petani tembako), hilangnya generasi masa depan, makin ekskalatifnya penyakit tidak menular terutama akibat paparan asap rokok, hingga makin eksploitatifnya industrik rokok karena kuatnya transaksi ekonomi-politik di baliknya. Segenap korban struktural seperti itu harus di advokasi Muhammadiyah. 

 

Dalam konteks sosialisasi dan kampanye, seperti yang dilakukan jemaat Betlehem, Desa Guaeria di awal tulisan ini, Muhammadiyah setidaknya, minimal melakukan gerakan penyadaran di tingkat komunitas (ranting, cabang dan AUM), menanamkan nilai-nilai dan penyadaran di tingkat publik serta kolaborasi masif dengan pihak lain yang concern dengan gerakan ini. Tentu, semua ini dilakukan dalam rangka menyelamatkan generasi muda bangsa kita. Akhirnya, teringat pesan Bung Karno, Bapak Proklamator RI: “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah. Perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”.

 

DIREKTORI KHUSUS