Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Direction

Menu Style

Cpanel

Adi Sasono dan Gerakan Ekonomi

Pada Sabtu 13 Agustus 2016, bangsa Indonesia kehilangan sosok pemikir dan pejuang gerakan sosial ekonomi. Adi Sasono, lelaki tegap kelahiran kota Batik, Pekalongan,16 Februari 1943 dikenal sebagai aktivis intens mengawal perkembangan LSM di Tanah Air. Dalam blantika pemikiran alternatif pembangunan, basis pemikiran Adi mempunyai tempat tersendiri. Bahkan, tesis Adi besama kawan-kawannya menawarkan ketergantungan dalam menjelaskan pelbagai persolan riil pembangunan, pernah cukup populer dekade 1980-an.

Keterlibatannya sebagai peneliti Universitas PBB di Tokyo dan jabatannya sebagai Ketua SEAFDA (South-East Asian Forum for Development Alternatiives) pada 1983-1987, menguatkan keyakinan Adi tentang perlunya pendekatan alternatif. Kata Adi, pendekatan pembangunan konvensional itu tidak menjawab problema kepincangan sosial dan pemberdayaan rakyat untuk demokrasi dalam bidang ekonomi dan politik, karena tekanan berlebihan pada sektor ekonomi. Lebih dari itu, posisi pemain-pemain ekonomi itu berbeda sehingga ada kecepatan bertumbuh yang berbeda pula. Akibatnya, ada gejala pemusatan kekuasaan aset produktif di tangan sekelompok kecil anggota masyarakat.

Melalui SEAFDA, Adi juga menolak asumsi bahwa solusi masalah keterbelakangan harus datang dari Eropa dan Amerika. “Kita harus mengajukan model pembangunan alternatif dari pengalaman kesejahteraan kita sendiri dalam konteks sosial budaya kita sendiri. Jangan sampai kita mejadi konsumen teori yang dipaksakan dari luar, yang kemudian tidak berhasil menjadi proses emansipatoris”.

Pendeknya, harus belajar dari proses pembangunan di tingkat akar rumput yang bisa dibawa sebagai masukan ke tingkat kebijakan makro. “Misalnya saya bergerak dalam bidang city’s planning dan urban development”. Tesis Adi, membangun suatu perencanaan kota dunia ketiga yang menciptakan pembangunan tanpa penggusuran. Bukan melalui pemaparan teoritis seperti dalam seminar-seminar. Tetapi, bagaimana masuk di lapangan dan berinteraksi dengan kekuatan-kekuatan yang pro maupun anti-rakyat dan dengan birokrasi yang acapkali kurang bisa menjabarkan makna kerakyatan.

Cultuurstelsel Berdaur-Ulang

Kebijakan struktural, yang memosisikan pemilik modal besar dan komparador asing sebagai pelaku utama ekonomi nasional, justru telah menciptakan kepincangan dan penjajahan baru. Model cultuurstelsel berdaur-ulang lagi, kata Adi. Massa rakyat hanya dijadikan konsumen dari produsen dan jaringan distribusi pemilik modal raksasa.

Karena itu, Mubyarto dalam bukunya, “Ekonomi Terjajah” (2005) menjelaskan, setelah lebih 60 tahun merdeka, kondisi perekonomian rakyat Indonesia tidak banyak berubah. Keterjajahan kembali ekonomi Indonesia mewujud dalam bentuk “penghisapan ekonomi” yang sangat tinggi dan penciptaan ketidakadilan sosial. Karena penghisapan tersebut, Indonesia tidak akan mungkin menciptakan keadilan sosial melalui strategi pembangunan.

Diingatkan, Pramoedya Ananta Toer (1995): “Selama beratus-ratus tahun lamanya negeri ini dijajah oleh bangsa barat, negeri ini dihisap, dirampas kekayaan alamnya, negeri yang begitu kaya, disulap menjadi negeri pengemis karena tidak adanya karakter pada kaum elit”. Meminjam istilah Bung Karno (1952): ”Kemerdekaan berarti mengakhiri untuk selama-lamanya penghisapan bangsa oleh bangsa yang tak langsung maupun yang langsung”.

Sayang sekali, karakter pemimpin kuat yang ingin menjadikan negeri ini mandiri dan bermartabat, yang jauh dari perbudakan, tampak kian minimal. Pemimpin yang ada, justru menempatkan penguasaan sumberdaya ekonomi kepada pihak asing. Pesan konstitusi ekonomi yang berkarakter ekonomi Pancasila, sudah semakin usang ditelan kebijakan pragmatisme yang tuna ideologi.

Merajut Kapasitas Negeri

Melihat persoalan dinamika ekonomi seperti itu, seyogianya tidak semata diselesaikan dengan pendekatan teori ekonomi primitif (mainstream). Pendekatan politik, sosial, hukum, dan budaya, harus angkat bicara. Penguatan ekonomi domestik, yang dimaknakan penguatan produksi, distribusi, jaringan, dan konsumsi domestik misalnya, menjadi prioritas membangun gerakan ekonomi rakyat. Karena itu, Adi Sasono menyodorkan subtema gerakan yakni kerakyatan, kemartabatan, dan kemandirian.

Kerakyatan, menjelaskan semangat membangun gerakan ekonomi rakyat sebagai landasan sistem kehidupan politik dan ekonomi nasional menjadi wahana percepatan proses pembebasan bangsa dari kemiskinan dan ketergantungan asing. Kuatnya gerakan ekonomi rakyat mengokohkan kegiatan kerakyatan. Kerakyatan dimaknakan, adanya rasa senasib dan seperjuangan dalam proses perjuangan kebangsaan, yang terus bergulir dalam mewujudkan kesejahteraan dan keadilan rakyat. Sikap gotong royong dan kekeluargaan, menjadi dasar demokrasi ekonomi harus mampu mewujudkan persaudaraan sesama anak bangsa atas dasar persamaan dan keadilan dalam membangun kesejahteraan sosial.

Selanjutnya, kemartabatan menjelaskan, harga diri sebagai bangsa yang terhormat, lahir dari proses genangan darah dan air mata serta tulang belulang para pejuang bangsa, jangan sampai digadai begitu saja demi tuntutan perut (ekonomi). Raibnya rasa kemartabatan inilah, yang membuat penguasa negeri kita, demi pencitraan ekonomi nasional, demi peningkatan pertumbuhan ekonomi, dan seterusnya, menggadaikan apa saja yang dimiliki Bumi Pertiwi.

Demikian juga gerakan kamandirian, menegaskan arah bahwa ekonomi Indonesia harus berdaulat, harus menjadi tuan di negeri sendiri. Yang paling tahu dan memahami seluk beluk di negeri ini, hanya kita, rakyat Indonesia sendiri, bukan bangsa asing. Di mana pun negara yang maju ekonominya, mesti yang berdaulat dan menguasai kegiatan ekonomi adalah kaum bumi puteranya.

Dalam konteks inilah, satu kata kunci yang pas untuk merajut samangat kita, kata Adi Sasono, “Menjadi Tuan di Negeri Sendiri”. Stop! menjadi penonton, kuli, dan jongos di negeri sendiri. Karena itu, pergulatan membangun semangat kerakyatan, yang menegaskan terbangunnya semangat perasaan senasib dan sepenanggungan, disertai semangat kemartabatan dan kemandirian, yang meneguhkan eksistensi terhadap harga diri sebagai anak bangsa dan percaya pada kekuatan sendiri, harus senantiasa terpatri pada diri anak bangsa. Akhirnya, selamat jalan Adi Sasono, semoga spirit gerakanmu tidak pernah padam, walau ragamu telah di telan Bumi Pertiwi.

DIREKTORI KHUSUS